Pages

Senin, 01 Februari 2016

IT Sectors With Large Economic Impact


DAMPAK IT TERHADAP PERKEMBANGAN EKONOMI

Tulisan ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis yang merupakah bagian masyarakat yang merasakan akan pentinggnya kehadiran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di setiap lapisan masyarakat.
Saya berada di wilayah Madura, di bagian daerah yang cukup terpencil yang sampai saat ini akses internet masih cukup langka kalau pun akses internet lewat handphone dengan sinyal kualitas sinyal rata-rata 2G, dan dapat sinyal 3G harus pergi ke kota.
Awal 2005 silam, penulis menempuh pendidikan S1 ke Yogyakarta, yang mana kata orang-orang luar waktu itu adalah kota pendidikan. Berbekal rata-rata pelajaran agama yang sebelum kuliah ditempuh pesantren, setelah lulus sekolah atas saran dan motivasi dari teman-teman dan guru penulis memilih jurusan teknik informatika di UIN Sunan Kalijaga, yang mana pada waktu itu adalah mahasiswa angatan pertama yang masuk jurusan TI di kampus tersebut.
Diawal perkuliahan penulis di suguhi dengan mata kuliah yang belum pernah dikenal sebelumnya, seperti Pengantar Teknologi Informasi, Algoritma dan pemograman, logika Informatika dll. Semester 1 dan dua saya masih bisa bertahan dengan dibantu pelajaran-pelajaran agama yang selalu mendapat nilai A, akan tetapi kalau matakuliah jurusan saya tak jarang mendapat C, D bahkan E. satu tahun menempuh di bidan TI saya mulai ragu, merasa tidak sanggup beratahan di jurusan TI. Berkat motivasi teman-teman kuliah dan teman di kontrakan akhirnya saya bertahan sampe semester 4, dan ternyata nilai saya hancur sampai IPK 1,0.
Keinginan untuk pindah jurusan sepertinya sudah tidak bisa ditawar lagi, akan tetapi atas saran dan masukan dari teman-teman dan setelah dipikir panjang, kalau penulis mundur dari jurusan tersebut berarti 2 tahun terbuang dengan sia-sia. Akhinya penulis dengan memantapkan hati dan berucap basmalah akan tetap bertahan sampai kapanpun yang penting harus lulus dari jurusan TI. Segala aktivitas organisasi kemahasiswaan yang tidak ada kaitannya dengan IT akhirnya mulai ditinggalkan. Kegiatan sosial, journalist yang dulu digandrungi perlahan-lahan dilepas.
Sejak semester 5 penulis mencari kegiatan yang bisa mendukung terhadap keilmuan IT, hal itu dilakukan agar penulis benar-benar mencintai segala keilmuan IT. Akhirnya penulis dipertemukan dengan komunitas IT yaitu linux jogja yang mana aktivitasnya selain kumpul-kumpul yang dibahas setiap hari pasti persoalan computer. Dari situlah penulis mulai belajar IT dan tanpa ada rasa malu bisa saling bertanya kepada teman-teman komunitas.
Tanpa disadari berkat keingin tahuan yang tinggi akhirnya penulis bisa menguasai linux walau tidak banyak, jaringan, dan sedikit dunia hacking. Berkat kemampuan yang tidak seberapa tersebut penulis lulus pada semester 12 dengan nilai sudah mencukup standart yaitu IPK 3,0.
Di kota pendidikan, penulis sangat merasakan betapa cepatnya arus informasi yang berputar di kawasan yang sudah memiliki infrastruktur yang sudah memadai. Keberadaan teknologi informasi membawa dampak yang sangat besar terhadap perubahan di tengah-tengah masyarakat, baik di sector pendidikan, budaya, perekonomian.    
Lulus kuliah penulis kembali ke Madura pada tahun 2011. Masa-masa awal di kampung halaman sangat berat, selain teman-teman yang sudah berkurang juga harus menyesuaikan dengan lingkungan yang jauh berbeda dengan Yogyakarta, terlebih lagi internet sangat sulit kalau di desa.
1 bulan setelah kembali penulis disuruh mengisi pelatihan pada acara bootcamp IT di salah satu SMK swasta. Pada saat mengisi acara penulis membawa laptop, proyektor dan sedikit peralatan jaringan dan menjadi tontonan yang luar biasa dari semua peserta yang hampir 100 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
   Berangkat dari keprihatinan keingintahuan para peserta, saya memutuskan untuk berbagi ilmu dengan mengabdi di sekolah tersebut. Selain itu penulis juga diminta di salah satu perguruan tinggi swasta untuk mengisi beberapa mata kuliah dibidang jaringan dan sistem operasi.
Kondisi perguruan tinggi di tempat penulis mengajar tidaklah seperti di Yogyakarta. peralatan serba minimalis dan mahasiswa semester 7 ditanya apa itu database tidak tahu. Akhirnya penulis membuat sebuah komunitas belajar khususnya linux dan jaringan yang diawali dari 5 orang mahasiswa yang mempunyai semangat yang tinggi.
Berbekal dari 5 orang mahasiswa dan peralatan yang penulis miliki, setiap hari mereka belajar dengan bergantian pake alat. Setelah beberapa bulan peserta didik yang 5 orang tersebut penulis paksa untuk membantu sekolah-sekolah masih minim fasilitas dan tenanga pengajar dengan member bimbingan secara gratis setiap 1 minggu sekali. Sampai saat ini kita memiliki kurang lebih 6 SMK binaan yang tersebar di area kabupaten pamekasan, dan 150 peserta yang gabung setiap tahunnya untuk belajar bersama masalah IT.
Berkat ketekunan dan semangat teman-teman kami, akhirnya komunitas kami diberi kepercayaan untuk mengelola Telecenter Global yang berisi fasilitas computer dan internet beserta tempat kontrakan.
Perlu diketahui bahwa program telecenter adalah program dari kominfo provinsi jawa timur yang dihibahkan kepada kabupaten/kota untuk dikelola. Tujuan dari telecenter tersebut untuk mengatasi kesenjangan digital/informasi antara masyarakat perkotaan dan desa. Selain itu ntuk memberi peluang dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di berbagai bidang, diantaranya sebagai instrumen peningkatan peran serta masyarakat dalam mengelola potensi dan sumberdaya lokal yang pada akhirnya akan mempercepat pembangunan ekonomi masyarakat.
Komunitas binaan yang penulis dirikan kini mengelola telecenter untuk mengedukasi masyakarat dibidang IT, misalnya mengajari computer, pemasaran online, desain dll. Dan penulis sendiri saat ini diangkat menjadi tenanga ahli IT pada dinas perhubungan komunikasi dan informatika kabupaten pamekasan, dan mengawasi pengelolaan telecenter.
Telecenter ini kurang lebih sudah 3 tahun kami kelola dan Alhamdulillah hasillnya cukup membanggakan buat penulis pribadi karena sudah berhasil mengedukasi masyakarat di bagian pantai pesisir untuk menjual produknya secara online, membantu pemasaran, pencarian informasi.
Karena sudah dianggap mulai tercerahkan dan sudah mellek IT masyarakat dikawasan tersebut, saat ini keberadaan telecenter dipindahkan kewasan desa pengrajin batik. Harapannya agar para pengrajin lebih kreatif meninggkat pemasaran lewat online sehingga memiliki income bertambah dengan adanya media edukasi lewat telecenter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar