DAMPAK IT TERHADAP PERKEMBANGAN EKONOMI
Tulisan ini berangkat dari
pengalaman pribadi penulis yang merupakah bagian masyarakat yang merasakan akan
pentinggnya kehadiran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di setiap
lapisan masyarakat.
Saya berada di wilayah Madura, di
bagian daerah yang cukup terpencil yang sampai saat ini akses internet masih
cukup langka kalau pun akses internet lewat handphone dengan sinyal kualitas
sinyal rata-rata 2G, dan dapat sinyal 3G harus pergi ke kota.
Awal 2005 silam, penulis menempuh
pendidikan S1 ke Yogyakarta, yang mana kata orang-orang luar waktu itu adalah
kota pendidikan. Berbekal rata-rata pelajaran agama yang sebelum kuliah
ditempuh pesantren, setelah lulus sekolah atas saran dan motivasi dari teman-teman
dan guru penulis memilih jurusan teknik informatika di UIN Sunan Kalijaga, yang
mana pada waktu itu adalah mahasiswa angatan pertama yang masuk jurusan TI di
kampus tersebut.
Diawal perkuliahan penulis di suguhi
dengan mata kuliah yang belum pernah dikenal sebelumnya, seperti Pengantar
Teknologi Informasi, Algoritma dan pemograman, logika Informatika dll. Semester
1 dan dua saya masih bisa bertahan dengan dibantu pelajaran-pelajaran agama
yang selalu mendapat nilai A, akan tetapi kalau matakuliah jurusan saya tak
jarang mendapat C, D bahkan E. satu tahun menempuh di bidan TI saya mulai ragu,
merasa tidak sanggup beratahan di jurusan TI. Berkat motivasi teman-teman kuliah
dan teman di kontrakan akhirnya saya bertahan sampe semester 4, dan ternyata
nilai saya hancur sampai IPK 1,0.
Keinginan untuk pindah jurusan
sepertinya sudah tidak bisa ditawar lagi, akan tetapi atas saran dan masukan
dari teman-teman dan setelah dipikir panjang, kalau penulis mundur dari jurusan
tersebut berarti 2 tahun terbuang dengan sia-sia. Akhinya penulis dengan
memantapkan hati dan berucap basmalah akan tetap bertahan sampai kapanpun yang
penting harus lulus dari jurusan TI. Segala aktivitas organisasi kemahasiswaan
yang tidak ada kaitannya dengan IT akhirnya mulai ditinggalkan. Kegiatan sosial,
journalist yang dulu digandrungi perlahan-lahan dilepas.
Sejak semester 5 penulis mencari
kegiatan yang bisa mendukung terhadap keilmuan IT, hal itu dilakukan agar penulis
benar-benar mencintai segala keilmuan IT. Akhirnya penulis dipertemukan dengan
komunitas IT yaitu linux jogja yang mana aktivitasnya selain kumpul-kumpul yang
dibahas setiap hari pasti persoalan computer. Dari situlah penulis mulai
belajar IT dan tanpa ada rasa malu bisa saling bertanya kepada teman-teman
komunitas.
Tanpa disadari berkat keingin tahuan
yang tinggi akhirnya penulis bisa menguasai linux walau tidak banyak, jaringan,
dan sedikit dunia hacking. Berkat kemampuan yang tidak seberapa tersebut
penulis lulus pada semester 12 dengan nilai sudah mencukup standart yaitu IPK
3,0.
Di kota pendidikan, penulis sangat
merasakan betapa cepatnya arus informasi yang berputar di kawasan yang sudah
memiliki infrastruktur yang sudah memadai. Keberadaan teknologi informasi
membawa dampak yang sangat besar terhadap perubahan di tengah-tengah masyarakat,
baik di sector pendidikan, budaya, perekonomian.
Lulus kuliah penulis kembali ke Madura
pada tahun 2011. Masa-masa awal di kampung halaman sangat berat, selain
teman-teman yang sudah berkurang juga harus menyesuaikan dengan lingkungan yang
jauh berbeda dengan Yogyakarta, terlebih lagi internet sangat sulit kalau di
desa.
1 bulan setelah kembali penulis disuruh
mengisi pelatihan pada acara bootcamp IT di salah satu SMK swasta. Pada saat mengisi
acara penulis membawa laptop, proyektor dan sedikit peralatan jaringan dan
menjadi tontonan yang luar biasa dari semua peserta yang hampir 100 peserta yang
mengikuti kegiatan tersebut.
Berangkat dari keprihatinan keingintahuan para
peserta, saya memutuskan untuk berbagi ilmu dengan mengabdi di sekolah
tersebut. Selain itu penulis juga diminta di salah satu perguruan tinggi swasta
untuk mengisi beberapa mata kuliah dibidang jaringan dan sistem operasi.
Kondisi perguruan tinggi di tempat
penulis mengajar tidaklah seperti di Yogyakarta. peralatan serba minimalis dan
mahasiswa semester 7 ditanya apa itu database tidak tahu. Akhirnya penulis
membuat sebuah komunitas belajar khususnya linux dan jaringan yang diawali dari
5 orang mahasiswa yang mempunyai semangat yang tinggi.
Berbekal dari 5 orang mahasiswa dan
peralatan yang penulis miliki, setiap hari mereka belajar dengan bergantian
pake alat. Setelah beberapa bulan peserta didik yang 5 orang tersebut penulis
paksa untuk membantu sekolah-sekolah masih minim fasilitas dan tenanga pengajar
dengan member bimbingan secara gratis setiap 1 minggu sekali. Sampai saat ini
kita memiliki kurang lebih 6 SMK binaan yang tersebar di area kabupaten
pamekasan, dan 150 peserta yang gabung setiap tahunnya untuk belajar bersama masalah
IT.
Berkat ketekunan dan semangat
teman-teman kami, akhirnya komunitas kami diberi kepercayaan untuk mengelola
Telecenter Global yang berisi fasilitas computer dan internet beserta tempat
kontrakan.
Perlu diketahui bahwa program
telecenter adalah program dari kominfo provinsi jawa timur yang dihibahkan
kepada kabupaten/kota untuk dikelola. Tujuan dari telecenter tersebut untuk
mengatasi kesenjangan digital/informasi antara masyarakat perkotaan dan desa. Selain
itu ntuk memberi peluang dalam meningkatkan kapasitas masyarakat di berbagai
bidang, diantaranya sebagai instrumen peningkatan peran serta masyarakat dalam
mengelola potensi dan sumberdaya lokal yang pada akhirnya akan mempercepat
pembangunan ekonomi masyarakat.
Komunitas binaan yang penulis
dirikan kini mengelola telecenter untuk mengedukasi masyakarat dibidang IT,
misalnya mengajari computer, pemasaran online, desain dll. Dan penulis sendiri
saat ini diangkat menjadi tenanga ahli IT pada dinas perhubungan komunikasi dan
informatika kabupaten pamekasan, dan mengawasi pengelolaan telecenter.
Telecenter ini kurang lebih sudah 3
tahun kami kelola dan Alhamdulillah hasillnya cukup membanggakan buat penulis
pribadi karena sudah berhasil mengedukasi masyakarat di bagian pantai pesisir untuk
menjual produknya secara online, membantu pemasaran, pencarian informasi.
Karena sudah dianggap mulai tercerahkan dan
sudah mellek IT masyarakat dikawasan tersebut, saat ini keberadaan telecenter
dipindahkan kewasan desa pengrajin batik. Harapannya agar para pengrajin lebih
kreatif meninggkat pemasaran lewat online sehingga memiliki income bertambah
dengan adanya media edukasi lewat telecenter.