Tersenyum, Ceria, itulah munkin beberapa ungkapan atau ekspresi disaat hati anda sedang dilanda kebahagiaan. namun apakah semua orang bisa tersenyum seperti anda, jawabannya belum tentu. salah satunya adalah aku, walau terkadang tersenyum namun bisa diakatakan jarang, hal itu dikarenakan bawaan dari sejak kecil. cara pendidikan orang tuaku sangatlah keras. mereka menginginkan anak-anak mereka tidak bodoh seperti mereka, ingin melihat putra putrinya sukses namun tidak semua orang tua mempunyai cara mendidik yang baik untuk anak-anaknya. terkadang kasih sayang ingin diluapkan untuk anak2 mereka berubah menjadi tekanan yang mengakibatkan stres secara physicologi.
orang tuaku tergolong keluarga miskin, hanya hasil pertanian yang tidak menentu yang menjadi tumpuan hidup kami. di flashback lagi kakekku hanyalah penjual es campur keliling. dari keluarga kam tidak ada yang mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup, hanyalah ibuku yang mengenyam pdidikan di pondok pesantren dan itupun hanya berjalan 2 bulan. diakala bercerita sambil memberi semangat pada kami, ibuku sangat ingin menempuh pendidikan pada saat itu, namun apa daya kondisi ekonomi kakek saat itu tidak ada dan harus mengasuh enam saudaranya yang masih kecil-kecil.
ayahku juga menginginkan anak2 tumbuh jadi orang yang sukses tidak boleh seperti dia nasibnya. dan dia selalu tekankan pada kami. dari keinginan ortu kami seperti itu mereka mendidik kami dengan keras, bersekolah mulai dari jenjang yang paling bawah, ngaji di langgar dsb. kami diawasi dengan ketat, tidak boleh main jauh, bergaul dengan tetangga. karena masa kecil masih senang2 main kami sering sekali mendapat hukuman dari ayah. tidak jarang pelepah kelapa bahkan kayu disekitar melayang ke tubuh kami dikarenakan kami tidak mengikuti peraturan. kalau mengingat pada hukuman-hukuman aku rasanya ingin menangis, namun sekarang kami sadar kalau itu semua dilakukan untuk kami ayahku memnginginkan yang terbaik buat anak2nya. namun dikarenakan mereka tidak berpendidikan maka cara mendidik kami sangatlah keras.
dari pola pendidikan keras itu aku cendrung menyediri menangis sendiri disaat tubuhku sedang memar akibat hantaman kayu-kayu, dan aku menjadi pendiam dan cendrung sulit memunculkan senyumku. walaupun sebenarnya suasana hatiku sedang stabil tidak ada masalah apapun aku hanya diam. karena sikapku yang diam terkadang membuat orang disekelilingku menjadi takut dan segan karena aku jarang ngomong.padahal aku tidak sedang sedih atau lagi ada masalah. aku sudah mencoba sebisa munkin bergaul dengan siapapun dan mencoba aktif untuk bisa ngomong.... bahkan aku sangat senan apabila bercanda. ketika aku aktif ngomong terkadang aku salah karena itu keluar dari kebiasaanku bahkan ada yang berpendapat aku itu playboy. aku kaget ketika kata-kata itu terlontar padahal aku hanya ingin bisa bertutur sapa agar aku bisa keluar dari trauma pada diriku. tapi tak apalah itu aku anggap sebagai buat diriku.
walau aku jarang dan sulit untuk bisa tersenyum, namun aku hanya ingin melihat orang2 disekelilingku tersenyum dan ceria. itu sebenarnya sudah membuatku lega dan sudah menyenangkan hatiku pula. tidak apalah orang tidak mengerti akan hatiku asalkan aku bisa mengerti dan peka akan suasana hati mereka agar aku bisa membantu mereka dengan kemampuan yang aku miliki. terkadang sangat berat membantu dan ingin membuat mereka tersenyum dan membuat raut wajah orang2 sekelilingku ceria, apalagi misalnya ada orang yang kita sukai tapi sudah jadi milik orang lain dan meminta bantuan kita, dia datang dengan muka muram terkadang sangat sulit membuat hati ini menerimanya, namun mau apalagi buatlah dia tersenym itu lebih baek walau terkadang sih membutuhkan tenaga ekstra harus menahan diri sendiri untuk brontak.
cukup itu dulu yaa sambung lagi besok.....^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar