Pages

Sabtu, 14 November 2009

Ubuntu dan Idealisme bangsa Indonesia

Oleh : Khairu Anam*

Semenjak deklarasi 45 di kumandangkan oleh Bung Karno dkk maka sejak itulah indonesia sudah siap tidak lagi menjadi Bangsa yang terjajah, tidak lagi di perbudak dan siap untuk berdiri di kaki sendiri tanpa besandar ke bangsa lain. oleh karenanya Indonesia yang penuh sumber daya yang melimpah baik hardware (SDA) maupun software (SDA) harus berjuang dengan keras untuk mandiri dan membangun Bangsa ini. tidak ada pilihan selain terus berusaha dan membangun soft skill bagi rakyat indonesia yaitu menjadi bangsa yang kreatif.

Namun ternyata hal yang diinginkan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang mandiri sesuai cita-cita awal reformasi kini mulai rapuh. terkesan bangsa ini menjadi bangsa konsumtif dan cendrung menjadi fllower (ikut-ikutan). salah satu contoh rakyat indonesia yang tidak patut ditiru adalah pembajakan software hampir terjadi diseluruh lapisan masyarakat, bahkan di instansi pemerintahan masih saja menggunakan software bajakan. hal tersebut perbuatan yang sangat tidak mencerminkan prilaku yang membanggakan. tidak menghargai hak cita dan kekayaan intelektual.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. pertama yang paling mendasar adalah tidak adanya kesadaran, dan bisa saja tidak tahu sama sekali bagaimana sebenar mekanisme penggunaan software tersebut. yang kedua mahalnya harga software sehingga menimbulkan niatan untuk memakai tanpa membeli lisensi. padahal pemerintah kita sudah membuat undang-undangnya tetapi itu semua hanya menjadi kitab suci yang hanya disimpan dalam lemari.

Sebenarnya bukannya tidak ada solusi atas dua permaslahan diatas. pemerintah kita masih setengah-setengah menerapkan undang-undang tersebut, dan masih kurang mengampayengan software yang gratis atau yang biasa disebut software Open Source. ketika software berbayar mulai marak, maka software yang tidak berbayarpun mulai menjamur. Banyak yang bisa diambil manfaat dari software berbasis Open source, disamping gratis kita juga bisa belajar sendiri dan mengembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan, selain itu menjadikan menjadikan kita khusunya dan bangsa ini secara umum menjadi Insan yang mandiri tidak tergantung sama provider (pembuat software). semenjak tahun 2000-an software open source sudah mulai menunjukkan kebolehannya dan tidak kalah dengan software yang berbayar, misalnya sistem operasi yang tidak kalah dengan windows adalah linux. linux sendiri masih mempunyai banyak varian seperti slackware, red hat, ubuntu ll, namun untuk tampilan dekstop ubuntu lah jagonya. kalau yang software tandingan dari mikrosoft office adalah open office.

Dengan membawa semangat 45 Komunitas Studi Linux UIN Sunan kalijaga Yogyakarta (KSL Kusuka) mengadakan Ubuntu Karmic Release Party 9.10. acara yang bertempat di teatrikal fakultas sains dan teknologi UIN Jogja (14/11) bekerjasama dengan Ubuntu id Sub Loco Jogja. dalam acara tersebut mengundang beberapa nara sumber penting yaitu dari Hedra combine (LSM open source), Frans dari UKM (usaha kecil menengah), ubuntu jogja dan dari KSL UIN. dalam acara tersebut selain dititik beratkan pada release ubuntu dan kupas tuntas kelebihannya, juga tidakkalah pentinga implementasi opensource di bidang usaha. dengan pemakaian open source di bidang usaha, hal itu membuktikan open source sekarang bukan hanya sekedar untuk dipelajari namun juga sudah sangat bisa untuk dipakai di dunia usaha, perkantoran dsb.

Kini open source sudah bisa menjadi pilihan hati anda dan tidak kalah cantik dengan software berbayar. bahkan kemudahan penggunaan sudah bisa dibandingan. ubuntu 9.10 karmic coala lbanyak memberi fitur tambahan dan semakin memudahkan penggunanya. mulai sekarang anda sudah tidak takut lagi untuk membayar sistem operasi yang berbayar linux lah solusinya.
berkibar terus bendera open source.

Salam open source....!!!


*Mahasiswa Teknik Informatika
Aktifis Open Source

Tidak ada komentar:

Posting Komentar