Pages

Rabu, 08 Desember 2010

goresan tinta sang santri

aku ingin kembali membuka memori masa lalu mulai aku berada sampai saat ini aku berada. 
aku dilahirkan di suatu desa terpencil di kawasan pulau madura, pulau yang panas dan terkenal dengan masyarakatnya yang keras. aku terlahir dari pasangan yang sangat sederhana sekali bahkan tergolong sangatlah miskin. ayahku merupakan anak nomer dua dari 5 bersaudara, dan hanya ayahku yang hidup sendirian lantaran dititipkan ke saudara kakekku dikarenakan tidak bisa memberi makan. kakekku berasal dari kawasan yang keras di madura tepatnya kabupaten sampang di robatal. kawan tersebut adalah kawasan yng lumayan banyak sekali orang bertengkar masalah kecil bisa nyawa taruhannya. 
kakekku merantau kedaerah bangkalan di kawasan barat madura perbatasan madura dengan surabaya. mata pencarian mereka adalah dengan berjualan es keliling ke semannjung kota bangkalan. berjualan es merupakan mata pencarian satu-satunya yang mana hasil pencarian itu digunakan untuk menghidpi keempat anaknya yang masih tinggal bersama mereka.


semenjak kecil ayahku sudah tinggal dengan saudara nenekku kebetulan saudara nenekku tidak mempunyai anak oleh karenanya ayahku dijadikan anak angkat. kehidupan pada waktu itu sangatlah sederhana. makanan yang sejenis nasi sudah tergolong mewah dengan lauk daun songkong dengan dibumbui garam. ayahku sejak kecil kerjaanya hanya maen kesana kemari... kehtan nyari anak burung. namun sebetulnya ayahku ingin sekolah namun saudara mbahku berkata "buat apa sekolah toh juga plang g bakal dapet makanan ato parang" yah karena masyarakat kuno masih pikirannya saat itu hanyalah makan dan materi. semenjak kata2 itu muncul ayahku g pernah lagi terpikirkan lagi ke dunia pendidikan. 
ketika usia mulai remaja ayahku sudah mulai sering mengunjungi nenekku dan mulai ikut bekerja di bengkel saudara tertuanya. usia sudah remaja ayakupun menikah untuk pertama kalinya. keluarga mereka sungguh bahagia lebih lengkap mereka dikarunia dengan seorang putri. namun hingga pada suatu saat ayahku terpaksa harus pisah dengan istrinya dikarenakan problem dengan mertuanya. setelah ayahku bercerai ayahku sudah hampir kehilangan semangat hidup... namun alhamdulilah karena desa tempat saudara nenekku tinggal dekat dengan pondok pesantren ayahku ikut mengaji dilanggar. dilanggar tempat ayahku mengaji dia bertemu dengan ibuku yang tak lain adalah anak guru ngajinya, dan kemudian ayahku menikahinya. pernikahan dengan ibuku alhamdulillah dikarunia 5 anak laki2.

ketika ayaku sudah berkeluarga dengan ibuku.... ayahku tidak lantas lepas tanggung jawab atas buah hatinya dengan hasil pernikahan pertama. karena ibuku walau tidak banyak mengerti dunia pendidikan namun ibuku sempat mondo di pondok pesantren selama 2 bulan. ingin ibuku dia pengen mondok lama, karena dia masih senang belajar, namun apalah daya kondisi pada waktu itu tidak mengijinkan. nenek dari ibu tidak kuat membiyayai dan saudara ibuku banyak. akhirnya ibuku disuruh plang dari pondok pesantren untuk bantu2 dirumah untuk menjaga adek2nya. ketika ibuku mendengar surat itu, ibuku menangis karena dia masih senang2nya menimba ilmu dan teman2 yang baru. akhirnya ibuku plang dari pondok untuk ngemong saudara-saudaranya yang masih kecil. dengan bekal sedikit itu akhirnya ibuku menyuruh bapakku untuk memasukkan saudara perempuan tiriku ke pondok pesantren. akhirnya mbakku dimasukkan kepondok pesantren dekat rumah. nuansa pesantren sungguh sangat tentram dan sangat menyenangkan. tiap minggu aku dan ibuku mengunjungi mbakku untuk menjenguk, membawa makanan, dan ngasih uang. saudara tiriku ini sudah dianggap kayak anaknnya sendiri oleh ibuku, tanpa mebeda-bedakan dengan kami. 

biasanya kita mengunjungi mabbku waktu sore hari habis sholat ashar. suara dzikir dan tashbis kala itu masih terdengar dari masjid di asrama putri. aku dan ibuku masuk dan menunggu dikamar mbakku. aku senang sekali ketika iktu jenguk. main2 sama mbak2 di pondok dikasih banyak makanannn dan yang nyebelin pipiku tak luput dari samberan cubitan yang datang dari segala arah. kebetulan aku dulu gendut, jadi banyak yang gemes hehehhehe ^_^. 

awal mula kami tidak mempunyai rumah, dan ayahku semenjak menikah dengan ibuku tidak mau tinggal dirumah saudara nenekku. ayahku ingin mandiri. akhirnya dengan belas kasih kepala desa, kami disuruh menempati balai desa, kebetulan balai tersebut tidak ada yang merawat dan kepala desanya tinggal dirumahnya sendiri. rumah balai desa itu jauh dari rumah penduduk. jadi kehidupan kami jauh sekali dengan penduduk, namun dekat dengan pondok pesantren. ayahku perlahan-lahan berkat bantuan pondok pesantren dipinjemi modal untuk buka bengkel di dekat pondok. akhirnya ayah setiap hari ada dibengkel. kala waktu itu aku hanya tinggal dengan ibuku dan ayahku, teman untuk bermain tidak ada, jadi yang menemaniku selalu ibuku. kalau tidak aku main kebengkel ayah. ketika aku menginjak usia 4-5 tahun ibuku memasukkan aku ke TPA didalam pondok pesantren, aku sangat senang sekali dikala mau kesekolah, karena dsiana banyak teman2. dan yang paling ku ingat adalah bermain-main sepeda dengan anak pak kiyai. ketika pak kiyai N bu nyai datang dari kondangan ato pasar, aku dan anak2 pakyai langsung menyamperin dengan gembira karena biasanya bu nyai sering ngasih oleh2. suara al-qur'an terdengar dimana-mana diseluruh penjuru pesantren ternyata itu pertanda waktu sore sudah tiba. ibukupun menjemputku dan nyamperin ayaku dibengkel untuk plang bareng. walau tiada kendaraan hanya berjalan kaki namuan sungguh sangat senang sekali. habis mandi ayahku sering ngajak jalan2 disekitar rumah. walau tidak kawan namun ayah dan ibuku menjadi teman yang paling baik. 

to be continued.......>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar